Anak merupakan amanah dari Alloh yang dititipkan kepada kedua orang tuanya, yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik supaya dapat tumbuh dan berkembang baik secara jasmani dan rohani. Sebagai orang tua kita harus mampu menjaga hubungan harmonis, selaras dan punya visi yang sama dengan anak-anak.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad sholallohu’alaihi wasallam pernah bersabda: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Salah satu fitrah yang ditanamkan Alloh dalam diri manusia adalah kebenaran. Sehingga kita harus mampu menyampaikanpada anak tentang kebenaran aturan Islam kepada anak-anak kita.

Sebagai orang tua bisa menjadi apa saja dalam kehidupan anak, menjadi guru, menjadi pembimbing dan menjadi teman bagi anak kita. Sangat penting memposisikan kita sebagai teman bagi anak kita, sehingga anak bisa lebih akrab, cenderung lebih dekat dan nyaman dengan orang tua.

Salah satu keuntungan peran orang tua sebagai teman adalah dapat membantu menyelesaikan masalah anak dengan lebih efektif dan mandiri. Ini dikarenakan anak lebih terbuka dan percaya kepada orang tua sehingga dapat menceritakan masalahnya secara sukarela.

Sebagai orang tua supaya tetap bisa memberikan tauladan, mengarahkan anak serta memberikan bimbingan. Ada batasan-batasan yang perlu dijaga antara orang tua dan anak jangan sampai keduanya melewati batasan tersebut agar dapat saling menghormati satu sama lain. Namun sebaiknya batasan antara menjadi teman dan orang tua tidak terlalu jauh agar kita dapat memainkan kedua peran tersebut secara bergantian di waktu yang tepat.

Sebagai orang tua, kita perlu memperhatikan komunikasi yang terjalin dengan anak. Namun ada beberapa kesalahan yang mungkin tidak disadari oleh para orang tua, salah satu kesalahan adalah kekeliruan dalam berkomunikasi dengan dua belas gaya populer. Adapun dua belas gaya populer yaitu memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap, mengancam, menasihati, membohongi, menghibur, mengkritik, menyindir, danmenganalisa. Hal ini berdampak negatif pada diri anak seperti anak suka marah, cenderung pendiam atau tidak percaya diri.

Sebagai orang tua, kita mulai menyadari betapa pentingnya menghargai perasaan anak. Kitapun memiliki sifat bawaan dari kecil yang disebut inner child, yaitu sifat seseorang yang membekas dari kecil. Maka dari itu jika orang tua ingin menjadi teman terbaik anak, namun emosi atau perasaan yang ada didalam diri orang tua ini masih kurang baik, tentunya hal tersebut akan berpengaruh terhadap pola asuh anak. Jika permasalahan terhadap diri orang tua sudah teratasi, barulah orang tua itu dikatakan siap untuk menjadi teman terbaik anak.Dengan kesiapan tersebut, maka diharapkan para orangtua bisa berperan dengan baik dalam membimbing anaknya.

Sedangkan langkah awal sebelum menjadi teman terbaik bagi anak adalah menjadi teman terbaik bagi pasangan kita. Mengapa? Karena akan mempermudah untuk mendiskusikan, memadukan dan mencari solusi. Langkah selanjutnya dengan mengubah pola asuh dan memahami karakter anak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua menjadi teman terbaik anak sebagai berikut:

1. Mendengarkan perkataan anak setiap orang tua selalu memperhatikan anak anak saat bicara, serta mengetahui keunikannya. Orang tua sebaiknya melibatkan anak dalam setiap keputusan yang akan diambil, seperti rencana liburan, sekolah,bahkan menu makanan sekalipun. Ini dapat membantu anak merasa bahwa pendapatnya didengarkan dan meningkatkan kedekatan antara orang tua dan anak.

2. Menyampaikan pada anak tidak perlu panjang dan tidak tergesa-gesa, mengatur pembicaraan yang baik, benar dan menyenangkan bagi anak.

3. Jaga perasaan anak-anak. Berlaku lemah lembut kepada anak, akan membuat perasaan mereka dihargai. Anak-anak akan merasa bahwa mereka dipedulikan oleh orang tuanya..

4. Bermain dengan anak Selain dapat menghibur dan mencegah anak menjadi sedih, ini juga dapat membantu meningkatkan keakraban antara orang tua dan anak.

 

5. Memahami karakter anak

Orang tua sebaiknya memahami bahwa anak memiliki karakter yang berbeda-beda setiap harinya dan sebagai orang tua perlu memahami bahwa tidak dapat menyamakan anak yang satu dengan yang lain, dan mendukung setiap perkembangan anak agar semakin percaya diri.

Sebagai orang tua, hendaknya senantiasa berharap kebaikan bagi anak. Dengan berbagai usaha dengan tujuan mencari keridhaan Alloh dan usaha untuk mendapatkan surgaNya, keselamatan dari neraka. Sebagaimana suri tauladan kita Nabi Muhammad sholallohu’alaihi wasallam sebagai pendidik yang sukses dalam mendidik umat dengan lemah lembut dan memahami karakter dari umatnya. Peran kita sebagai orang tua menjadi teman terbaik bagi anak tidak lepas dari rasa syukur kita kepada Alloh. Anak kita adalah anugrah terbesar dari Alloh yang harus kita jaga dan kita hargai, untuk menyongsong masa depan mereka.

REFERENSI

https://latiseducation.com/artikel/68/Peran-Orang-Tua-sebagai-Sahabat-bagi-Anak-di-Rumah

Abu Amr Ahmad Sulaiman, 2000, Metode Pendidikan Anak Muslim, Darul Haq, Jakarta.